Showing posts with label Development. Show all posts
Showing posts with label Development. Show all posts

Saturday, July 4, 2009

Curhat Karyawan Tentang Atasan


Seorang teman mengatakan bahwa di sulit sekali bekerjasama dengan atasanya, “Masa ga pernah ngasih arahan….ga pernah ngasih tau target gue apa… eh, tiba-tiba bilang gue kerja ga bener???”

“Suatu waktu Atasan gue minta klarifikasi tentang masalah yang terjadi…eh gue jelasin ga paham dia…eh malah nyolot, dibilang gue kerja ga service oriented sama customer!” Dengan suara yang semakin tinggi teman saya ini terus nyerocos bercerita.

Saya sendiri juga akhirnya juga tidak mehami lagi karena permasalahan yang disampaikan semakin panjang dan melebar kemana-mana. Yang Saya tahu pasti teman ini merasa bahwa atasanya tidak bisa berperan sebagai manager dan leader yang baik.

Dalam pandangan orang yang awam (termasuk pandangan saya juga dahulu), bahwa tugas pemimpin (leader) itu hanya mengawasi anak buahnya untuk bekerja, memarahi anak buahnya yang malas, kerjanya hanya duduk-duduk santai.

Saya pikir memang tidak salah ada pandangan yang demikian, karena hakekatnya pandangan suatu masyarakat itu dibentuk oleh proses internalisasi pengetahuan dari apa yang dilihat, dibaca dan diajarkan oleh lingkungan. Mungkin pandangan ini akan terkesan primitive. It may be true.

Dengan adanya cerita kemarahan teman saya di atas dan perasaan dalam hati Saya yang diam-diam mengatakan setuju dengan pendapatnya, menunjukan bahwa jaman sekarang harapan masyarakat sudah berubah dari yang sebelumnya akan peran (role) seorang pemimpin (leader), namun masih terdapat “lack” dengan kenyataan bahwa masih banyak manager dari yang level junior sampai level senior yang masih belum competent dan mampu menampilkan diri sesuai harapan kekinian jaman.

Mohon maaf sebelumnya jika terkesan me-generalisasi pandangan Saya dan teman ini sebagai pandangan masyarakat, tetapi saya tetap “keukeuh” bahwa dalam logika berfikir kolektif masyarakat telah terjadi perubahan mengenai harapan akan peran seorang leader.

Para leader pada umumnya masih belum memiliki (mau) sikap mental yang seharusnya. Ada yang masih memiliki sikap mental buruh/babu, penjilat, dan bahkan ada yang memiliki sikap mental selebritis. Kesemuanya itu tidak pada tempatnya.
Yang bersikap mental seperti buruh, Dia akan menganggap anak buahnya sebagai saingan dan tidak senang kalau anak buahnya lebih pintar, maju, dibandingkan dengan dirinya. Melupakan tanggung jawabnya unntuk mengembangkan anak buahnya. Dia tidak memiliki kemampuan untuk mendelegasikan tugas pada anak buahnya dan bekerja sendiri tak ubahnya dengan karyawan pada umumnya.

Si penjilat, akan dengan mati-matian melayani atasan dengan sangat berlebihan sehingga melupakan anak buahnya. Tidak perduli anak buahnya kocar-kacir bagaikan anak ayam kehilangan induk. Bahkan kadang kala tidak perduli dengan jalannya operasional kerjaan teamnya. Team work baginya adalah orang-orang yang mendukung misinya untuk membuat atasan klimis dan licin terjilati. Biasanya operasional kerja teamnya akan tidak optimal memainkan peran dan fungsi sebagai bagian dari organsisasi yang besar. Dan kalau mendapat kompalin dari bagian lain akan dengan sangat mudah si penjilat menyalahkan anak buahnya sebagai orang yang berposisi lebih lemah darinya.

Sedangkan si “selebritis “ akan abai pada peran dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, lebih sibuk tebar pesona demi mendapatkan pujian dari lingkungan bahwa Dia adalah yang paling menawan dan cerdas secara ragawi. Kok tidak nyambung? Cerdas secara ragawi??? Memang si “selebritis” biasanya kalau menganalisa permasalahan juga dangkal dan sering tidak nyambung. Seperti layaknya setereotipe yang digambarkan masyarakat mengenai “selebriti” lah. Mengandalkan rasionalisasi tetapi tidak memiliki kapasitas yang mencukupi, terkesan dipaksakan untuk logis. Anak buah bagi dia adalah layaknya groupies yang harus memuja-muja si “selebritis” setiap waktu. Segala salah dan kegagalan team dalam bekerja adalah dosa anak buah sekalian, bukan Atasan.

Kembali ke masalah teman saya tadi, jika apa yang diharapkanya tidak sesuai dengan harapanya apa yang harus dilakukanya? Berdoa, menyanyi, menangis, atau ,marah-marah???

Kembali ke hakekat kehidupan sajalah bahwa itu adalah kenyataan, kalaulah kita mampu merubah keadaan maka rubahlah namun jika tidak mampu kita harus menerima segala konsekuensi dan segera melakukan antisipasi untuk survive. Intinya harus ada keputusan dan action.

Kalaulah tujuan dan aspirasi kita dalam bekerja tidak bisa tercapai dengan bekerja di tempat tersebut dan kita mampu mencari pekerjaan lain, go a head lah pindah.
Kalau kita tidak mampu merubah keadaaan dan tidak mampu mencari pekerjaan yang lain maka kita harus menyesuaikan diri dengan aturan main “permainan atasan”, akan tidak nyambung kalau atasan mengajak bermain sepakbola tetapi kita tetap keukeuh memakai aturan permainan bola volley.

Jangan sampai kita tidak tetap di situ, tetap tidak mampu merubah keadaan dan tetap tidak mau menyesuaikan diri juga. Ingat waktu terus bergerak, kalau menunggu pertolongan Tuhan agar merubah keadaan melalui takdirnya. Apakah kita tidak GR (Gede Rasa)? Apakah kita cukup PD (Percaya Diri) dengan tingkat keimanan kita, sehingga Tuhan akan membantu kita dengan kita hanya berdiam diri. “Siapa elu?” kata Tuhan.

Tuhan pun tidak menyarankan itu,” Tuhan akan merubah nasib suatu kaum jika dia berusaha”.

Benar yang dikatakan orang Betawi, “Di Jakarta (dunia) ga ada yang gratis, bung!”

Tuesday, June 9, 2009

Sang Juara


Di tengah kondisi krisis ekonomi global yang sekarang ini sedang melanda, biaya hidup semakin meningkat semetara tingkat pendapatan tetap dan bahkan beberapa perusahaan membatasi jam kerja atau bahkan ada yang terancam PHK. Kita tidak bisa lari dari kondisi ekonomi sekarang ini karena sifatnya yang meng-global, sehingga kita seorang diri takkan mampu untuk merubahnya, harus ada upaya bersama secara menyeluruh oleh bangsa sedunia.

Dengan kondisi ini, kita para karyawan yang menggantungkan pendapatan untuk membiayai operasional hidup ini dari gaji yang di dapatkan dalam tiap bulanya, harus melakukan upaya-upaya yang ‘tidak biasa’. Dalam kondisi yang luar biasa kita tidak bisa berharap untuk mendapatkan hasil yang lebih baik jika kita bekerja melalui cara-cara yang biasa.

Sebenarnya hikmah dari kondisi krisi ekonomi ini adalah kita medapatkan kesempatan untuk menunjukan bahwa kita adalah pribadi (karyawan) yang unggul, karena hanya pribadi benar-benar memiliki sikap hidup dan kualitas competencies yang baik, yang akan mampu mengatasi masalah.

Dalam suatu pertandingan olah raga hanya ada satu orang atau satu team saja yang menjadi juara, dan mereka adalah yang mampu: berlari lebih cepat, meloncat lebih jauh dan melompat lebih tinggi. Mungkin yang lain telah melakukan persiapan yang sama baik dan bahkan mungkin lebih baik, namun momentum hanya mampu dimanfaatkan oleh sang juara. Dan yang lain hanya menjadi biasa-biasa saja.

Sehingga untuk bisa mendapatkan imbalan hasil kerja yang lebih baik kita sebagai karyawan harus bisa memiliki pola pikir yang posistif, memandang bahwa keadaan krisis sekarang ini adalah suatu momentum yang tepat untuk membuktikan keunggulan competenciesn yang kita miliki. Selanjutnya upaya-upaya yang keras dan tanpa kenal lelah adalah langkah selanjutnya agar competencies yang kita miliki dapat maksimal menunjang hasil kerja yang unggul. Yang terakhir, jangan takut untuk menjadi berbeda dengan orang lain, karena seperti disampaikan di atas bahwa dalam pertandaingan juara pertama hanya ada satu.

Monday, May 18, 2009

Facebook VS Kinerja


Telah banyak tulisan di media cetak mengulas tentang hubungan “demam facebook” dengan perilaku karyawan dalam bekerja. Kalau coba disimpulkan dan dirata-rata boleh dikatakan bahwa tulisan-tulisan tersebut lebih banyak menyatakan bahwa Facebook banyak “mudaratnya” terhadap kinerja karyawan. Apakah memang demikian buruk pengaruh facebook terhadap kinerja pegawai?

Kalau karyawan demikian ter“adiction”nya sehingga tidak bisa mengelola waktunya dan akhirnya hasil kerjanya menurun maka memang sepantasnya “facebook” diblokir agar tidak di akses oleh karyawan.

Beberapa kalangan yang tidak setuju dengan pandangan itu pasti akan menentang dengan menyatakan bahwa belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahwa dengan sering mengakses facebook kinerja akan menurun. Beberapa yang lainya mungkin akan mengatakan dengan mengambil contoh dirinya bahwa kinerja tidak menurun dengan adanya “tambahan kerja” membuka-buka facebook. Tentu saja alasan ini juga belum didukung oleh hasil studi ilmiah.

Tetapi jika kita ingat pesan ceramah yang diajarkan oleh para pemukan agama (apapun agamanya), sering disampaikan bahwa apapun jika “berlebihan” atau “terlalu” dalam versinya bang haji Roma Irama, itu tidak baik. Pun jika itu yang enak-enak dan yang halal.

Jika kita mengambil esensi dari ajaran tersebut rasanya tidak ada yang “mengharamkan” adanya facebook asalkan tidak berlebihan, apa hubunganya coba? Yang akan dikatakan di sini sebenarnya adalah, jika karyawan tetap menunjukkan prestasi kerja yang baik dan tidak menggunakan sebagian besar waktu dan konsentrasi untuk aktivitas “facebooking” ini, facebook masih pada tataran “tidak berdosa”.

Yang artinya karyawan sendiri harus mampu mengelola dirinya dengan baik antara mengerjakan pekerjaan kantor dan “pekerjaan dari facebook”.

Sungguh memang sangat mengasyikan dan menyegarkan ketika kita bisa mendapatkan up date informasi teman-teman SMA, SMP atau bahkan SD yang telah puluhan tahun tidak tahu kabarnya. Seketika itu juga memori kita akan melayang ke masa berpuluh-puluh tahun lalu tentang kelucuan-kelucuan, cinta-cintaan, dan kenakalan masa muda. Belum lagi ditambah dengan ilustrasi foto-foto yang tentunya akan menambahkan sensasi yang dirasakan menjadi kian lengkap.

Kesenangan “facebooking” tidak berhenti sampai di situ saja, apakah yang pembaca semua rasakan jika ada teman yanag mge”add” kita, apa juga yang dirasakan jika komentar kita dalam “wall” mendapat komentar yang lucu-lucu. Sensasi “fresh” dan menyenangkan akan dirasakan.

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang tahan dengan godaan ini? Jawabanya adalah mereka yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya atau karyawan yang memiliki competency melakukan “devided attention” yang baik sehingga tidak mudah terpengaruh oleh “distruction factors” yang ada .

Tentunya karyawan yang masuk golongan ini tidak banyak dan manusiawi (bahwa manusia itu pada dasarnya tidak sempurna), namun tetap harus di upayakan dari sisi internal dalam diri masing-masing karyawan. Sehingga sangat bisa dipahami jika perusahaan (pengusaha) sebagai pihak external membuat kebijakan memblokir atau selektif dalam memberikan akses karyawan terhadap facebook.

Untuk beberapa bagian mungkin justru facebook akan membantu dalam bekerja, seperti sales dan marketing, karena bagian tersebut harus “gaul” dan up date terhadap informasi di luar. Namun tentunya bagian mana yang akan mendapatkan hak untuk mengakses ataupun bahkan larangan untuk mengakses tetap merupakan hak prerogratif Perusahaan (pengusaha), tentunya hak ini tidak disemangati oleh sikap negative yang akan kontra produktif terhadap kinerja karyawan.

Kebijakan yang “ win-win” akan lebih memberik dampak yang posistif bagi kedua belah pihak, karyawan dan perusahaan.

Sunday, May 10, 2009

“Aku resign ah, udah ga tahan lagi!”


Mario Teguh dalam sebuah sesi “Golden Ways” di Metro TV mengatakan bahwa hakekat kehidupan adalah adanya pertumbuhan , sedangkan pertumbuhan itu sendiri hakekatnya adalah perubahan (berubah). Berubah menjadi lebih tinggi, lebih luas, atau lebih besar.

Dalam dunia kerja biasanya kita akan terpikirkan untuk resign jika menemui situasi yang tidak nyaman, antara lain jika kita berhadapan dengan situasi: tidak suka atau tidak disukai oleh atasan, perusahaan sedang mengalami krisis keuangan, merasa gaji yang kita dapatkan terlalu kecil, bosan dengan situasi kerja yang monoton.

Di antara alasan yang disampaikan di atas adalah hal-hal yang jika kita pindah kerja mungkin akan terjadi juga di tempat kerja yang baru.

Kesimpulannya adalah janganlah kita resign karena untuk menghindari masalah di tempat kerja sebelumnya. Hadapi dan selesaikanlah masalah yang sedang di depan kita dengan kesungguhan dan sikap profesionalitas. Karena pengalaman kita dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah akan menaikkan level kematangan dan profesionalitas kita, pada akhirnya akan menjadi nilai tambah yang memperkaya portfolio kita sebagai karyawan.

Sehingga bukanya kita semakin malas, ogah-ogahan, dan bahkan menghindarkan diri untuk bertanggung jawab. Tetapi tetap focus, dengan segenap competencies yang kita miliki semaksimal mungkin mengatasinya. Sejatinya kualitas seseorang akan semakin terlihat dalam dalam menghadapi situasi kritis.

Hendaknya jika kita resign atau pindah kerja lebih didasari oleh alasan yang menunjang pencapaian tujuan dan cita-cita karir kita. Seperti apa yang disampaikan oleh Mario Teguh di atas bahwa hanya akan resign (pindah kerja) jika mendapatkan tawaran pekerjaan yang menantang competencies yang kita miliki, mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar dan mendapatkan ragam pekerjaan yang lebih kaya. Karena semua itu akan meningkatkan level kematangan, competencies dan profesionalitas kita yang akan semakin mendekatkan kita pada arah pencapaian tujuan karir di masa depan.

Bicara mengenai salary dan benefit, semuanya akan mengikuti seiring dengan beban kerja, tanggung jawab yang diemban dan prestasi yang kita hasilkan.

Monday, April 20, 2009

Politik Kantor

Sekarang ini dunia perpolitikan nasiomal sedang meningkat tensinya seiring dengan semakin dekatnya masa pilpres pada bulan Juli 2009 nanti. Tujuan dari politik itu sendiri adalah kekuasanan, bagi yang menang dalam pemilu maka akan berhak untuk memegang kendali Pemerintahan Negara.

Kemudian kalau kita mendengar istilah Politik kantor itu apa maksudnya? Maksud dan tujuanya sama saja dengan politik dalam bernegara. Orang yang menjalankan politik di kantor atau ditempat kerja adalah untuk mendapatkan “kekuasaan”, yang dalam terminology dunia kerja maksudnya adalah: peningkatan career/jabatan, kepentingan diri sebagai karyawan dapat diakomodasi oleh atasan sehingga mendapatkan keuntungan yang diharap (pujian, penilaian yang baik, kenaikan gaji, terhindar dari tanggung jawab, dll).

Wah, artinya semua karyawan akan melakukan politik kantor, dong? Jawabnya tidak, karena dalam politik kantor biasanya para praktisinya adalah orang yang menyadari kekurangan yang ada dalam dirinya. Dengan kekuranganya tersebut kalau tidak di-“make offer” maka si karyawan akan tampak seperti biasa saja, sehingga kesempatan peningkatan level jabatanya akan sama dengan orang-orang pada umumnya (apa adanya). Dengan “make offer” prestasi karyawan tersebut akan dipersepsikan luar baiasa dan kinclong, setiap inci improvement yang dibuat akan ter “zoom in” oleh atasan.

Politik kantor yang lain adalah bersifat negative, agar terhindar dari tanggung jawab, menghindarkan diri dari penugasan yang tidak disukai, menghindarkan diri dari sangsi akibat kesalahan yang dibuat. Pada dasarnya semua yang dilakukan adalah untuk suatu kepentingan pribadi dan hal ini kongruen dengan politik Negara.

Politik kantor boleh saja dan sah dilakukan asalkan tidak menggunakan cara-cara yang merugikan orang lain dan mengedepankan cara-cara yang elegan. Tetapi memang agak sulit untuk menemukan praktek politik yang demikian. Karena biasanya mereka akan dikenal sebagai karyawan: penjilat, cari muka, makan kawan sendiri, dan oportunis.

Biarpun kesannya negative namun hal ini adalah hal yang sangat umum terjadi dalam dunia kerja. Kalau kita cukup percaya diri dengan competencies yang kita miliki sebenarnya tidak perlu melakukan hal-hal yang seperti itu. Tetapi perlu diingat bahwa “mengiklankan” apa yang kita kerjakan adalah juga cukup penting, melalui jalur komunikasi yang ada. Misalkan menjelaskan dalam sesi meeting atau presentasi dan media komunikasi internal. Sehingga tidak usah sakit hati bila ada rekan kerja yang melakukan praktek politik kantor.

Sunday, March 29, 2009

Alkisah Karyawan Outsource

Melalui UU Tenaga Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003, pemerintah membuka kesempatan bagi Perusahaan untuk mengoutsourcekan kepada pihak ke-3, pekerjaan yang tidak terkait dengan Core Business-nya. Bagai gayung bersambut dengan alasan efisiensi biaya dan meminimalisasi resiko operasional banyak perusahaan segera memanfaatkan peluang tersebut. Kemudian sebagai implikasi logisnyatumbuhlah banyak perusahaan outsourcing, bak jamur di musim hujan.

Dalam perkebangannya employee (karyawan) dengan status outsource terkesan sebagai karyawan kasta terendah setelah karyawan permanent dan direct-contract perusahaan principal (perusahaan tepat outsource employee ditempatkan). Ini adalah keyataan yang harus diterima untuk saat sekarang ini.

Persepsi yang berkembang di masyarakat outsource employee selalu berada dalam keadaan tidak aman, karena dengan atau tanpa alasan perusahaan principal berhak mengembalikan employee ke perusahaan outsource dan kalau perusahaan outsource tidak memiliki perusahaan lain untuk mentransfer maka karyawan tersebut bisa jadi akan diterminate. Hal ini bisa terjadi karena perjanjian kerja yang mengikat mereka dengan perusahaan outsource biasanya memungkinkan tindakan terminasi dengan alasan seperti ini, sehinga posisi outsource employee sangat rawan.

Karena kebanyakan sifat perusahaan outsource yang ada sekarang ini adalah labour supply bukan outsource service, maka aspek pengembangan competencies dan pengembangan karir bukan perhatian utama. Fokus mereka masih pada penyediaan sebanyak mungkin candidates yang memenuhi minimum requirement jabatan yang diminta perusahaan principal.

Mungkin rekan-rekan yang sekarang ini masih berstatus outsource employee bisa menambahakan lagi cerita mengenai kelemahan/kekurangan lain sebagai outsource employee.

Sekali lagi ini adalah kenyataan yang harus disadari.

Sebagai fresh graduated jika ditengah kian sempitnya lapangan kerja yang tersedia, apakah akan ditolak jika kesempatan yang ada di depan mata adalah employee dengan status outsource?

Sebagai outsource employee apakah harus pasrah dalam kondisi ini karena sudah tidak ada harapan lagi? Pemikiran dan sikap positif harus kita kembangkan.

Sebagai fresh graduated jika memang kita dihadapkan pada kesempata kerja dengan status outsource selain karena pertimbangkan kesempatan kerja yang terbatas dan mengingat belum adanya pengalaman kerja sangat disarankan untuk mengambil kesempatan tersebut. Jangan pernah berfikir “dari pada nganggur” karena ini adalah titik awal karir Anda.

Kalau Anda masih ada pilihan diantara perusahaan outsource yang ada, maka pilihlah perusahaan outsource yang memiliki program pengembangan karyawanya dan memiliki jenjang karir. Tidak banyak memang perusahaan outsource yang seperti ini sehingga disarankan kepada Anda untuk memperluas wawasan sehingga mendapatkan informasi mengenai perusahaan outsource manakah yang memiliki program ini.

Jika Anda tidak ada pilihan atau tidak ada perusahaan outsource yang memenui kriteria tadi tetaplah ambil kesempatan tersebut. Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah pelajari dengan baik kontrak kerja yang disodorkan ke Anda. Pahamilah dengan baik apa yang menjadi hak dan kwajiban Anda sebelum menandatanganinya.

Ketika Anda sudah ditempatkan di perusahaan principal, sikap kerja harus profesional dan disiplin. Jangan menyalahkan masa lalu, sistem, nasib dan over critisisme terhadap perusahaan outsource maupun perusahaan principal. Berfikir dan bersikaplah positif, selalu mengacu pada aturan dan kesepakatan kerja yang sudah dibuat.

Ketika Anda bekerja manfaatkan semua kesempatan dan proaktif terlibat dalam setiap event yang diadakan di perusahaan outsource maupun di perusahaan dimana Anda ditempatkan, baik sebagai panitia maupun peserta. Kegiatan seperti: training, kegiatan ekstra kulikuler (employee gathering), adalah ajang aktualisasi diri Anda selain bekerja.

Jangan lupa untuk mencari kesempatan untuk belajar, mengeksplorasi kemampuan ataupun menambah pengetahuan dibidang di luar bidang kerja yan menjadi tugas Anda. Sebagai contohnya, jika misalkan Anda adalah seorang call center sebuah perusahaan dan memiliki minat bidang IT maka ketika ada karyawan IT support sedang sibuk menginstal atau melakukan trouble shooting cobalah untuk bertanya tentang apa yang dikerjakan dan bila memungkinkan terlibatlah untuk membantu dengan terlebih dulu menawarkan diri tentunya.

Dengan demikian jika memang Anda mampu maka bisa jadi bila ada masalah mengenai program yang ada, Anda bisa membantu mengatasinya sesuai dengan kewenangan yang diperbolehkan, minimal Anda menambah pengetahuan. Jadi pada intinya Anda harus membuka diri dan jangan terlalu perhitungan dulu kalau masih belajar. Benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa sekarang ini tidak yang gratis, semua ada ”ongkosnya”. Bahkan dari jaman majapahit sudah dibilang bahwa ”Jer basuki mowo bea.”

Dengan sikap kerja yang demikian diharapkan Anda mampu mengaktualisasikan potensi dan competencies yang dimiliki yang pada akhirnya peningktan karir dapat di raih. Peningkatan level dan kesempatan berkarir secara permanent di perusahaan principal bukan hanya isapan jempol belaka.

Beberapa perusahaan principal menyediakan jenjang karir terhadap outsource employee, selain juga beberapa perusahaan outsource yang telah mapan juga memiliki career path yang baik bagi employee mereka. Bahkan di beberapa perusahaan sudah menjadikan outsource employee sebagai sumber talent potential dalam proses recruitment-nya, selain mendapatkanya melalui kampus dan lowongan kerja di media masa/internet.

Bahkan di beberapa perusahaan untuk jabatan tertentu dengan staus permanent dialokasikan untuk internal employee berstatus outsource, walaupun hal ini biasanya tidak dipublikasikan secara terbuka.

Dari berbagai sesi wawancara recruitment yang pernah saya lakukan untuk level managerial, beberapa kali ditemui candidates yang memiliki back ground pengalama sebagai karyawan outsource pada awal karirnya.

Tetap semangat dan gantungkan mimpimu setinggi langit, wahai temen-temen outsource!

Monday, March 23, 2009

Yang Memiliki 'Value Added' Yang Dicari



Akibat kiris keungan global persaingan di dunia kerja sekarang ini menjadi semakin ketat. Selain karena jumlah angkatan kerja baru atau fresh graduated, semakin bertambah setiap tahunnya. Program efisiensi dengan mengurangi jumlah karyawan baru yang akan direkrut, yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan juga menambah kesemptan kerja menjadi berkurang. Perusahaan lebih mengedepankan usaha untuk mengoptimalkan sumber daya yang telah dimiliki.

Akan kemanakah para angkatan kerja baru tersebut terserap? Siapakah yang akan berhasil lolos dalam menembus lubang jarum seleksi dunia kerja? Tentulah secara normatif jawabanya adalah orang yang memenuhi competencies dari jabatan yang tersedia.

Kemudian pertanyaannya, apakah memang hanya sedikit dari sekian ratus ribu angkatan kerja yang memiliki competencies untuk suatu jabatan yang tersedia untuk fresh graduated? Tentu tidak jawabanya. Sebagai contoh jika kita mencari karyawan untuk jabatan sales, competencies yang dipersyaratkan antara lain adalah :

  1. Confidence
  2. Comunication
  3. Perseverance
  4. Sales Skill

Untuk menemukan orang yang memenuhi competencies nomer 1-3 sepertinya tidak sulit dari angkatan kerja yang ada. Namun jika kita saring lagi yang memenuhi competency = sales skill, akan semakin sedikit yang memenuhi syarat. Akan tetapi sedikit di sini bukan berarti langka, karena jika kita melihat lebih ke dalam lagi di kehidupan kampus banyak mahasiswa jaman sekarang yang ‘nyambi’ berjualan.

Tahap berikutnya setelah aspek competencies adalah kesempatan kerja, seperti yang saya uraikan di awal tulisan ini. Jadi siapa ‘dong’ dari sekian banyak candidates sales yang telah lulus seleksi competencies tersebut yang akan terpilih? Jawabanya adalah mereka yang memiliki value added (nilai tambah) atau yang memiliki keunikan atau perbedaan sehingga menonjol dibandingkan dengan yang lain.

Sebagai contoh jika kita sebagai recruiter, tentu akan memilih fresh graduated yang telah memiiki pengalaman 'real' di lapangan kerja dibandingkan dengan candidates yang hanya bagus dalam assessment terhadap competency-nya. Kita akan cenderung mengambil kandidat yang di masa lalunya pernah memiliki pengalaman mencapai kesuksesan setelah melalui perjuangan dan usaha yang ulet dan terus menerus.

Tanggung jawab siapakah untuk menciptakan tenaga kerja yang memiliki value added ini? Tentu semua stake holder yang terlibat dalam proses perkembangan mahasiswa sejak dini samapai lulus kuliah. Kampus, orang tua dan mahasiswa itu sendiri.

Kampus menyediakan media dan dukungan program yang merangsang mahasiswa mampu mengembangkan kekhasan atau keunikan dari masing-masing individu mahasiswa sesuai dengan minat, bakat dan kemampuanya. Agar jika mereka nanti lulus mampu menjawab tantangan dunia kerja. Salah satu yang disarankan kepada kampus adalah menjalin hubungan yang erat dengan dunia usaha atau perusahaan. Diharapkan dengan kedekatan tersebut diperoleh informasi dan penghayatan akan kebutuhan 'real' dunia kerja.

Orang tua mahasiswa dengan kelimpahan kasih sayangnya diharapkan untuk bisa menahan diri. Untuk tidakmemanjakan anaknya dengan berlebihan, latihan kemandirian dan tanggung jawab sejak dinilah yang perlu ditanamkan. Agar diperoleh penanaman nilai-nilai yang positif mendukung kehidupanya kelak jika sudah benar-benar dewasa.

Mahasiswa adalah Subyek yang paling bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Wawasan pengetahuan dan pola asuh sejak dini adalah fondasi yang akan menentukan arah visi-misi dirinya kedepan, namun tetap semuanya ditangan mereka.


Semoga hal ini bermanfaat bagi kita semua.

Sunday, March 15, 2009

Kiat Meraih Puncak Career di Masa Krisis Ekonomi


Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika semakin lama semakin terasa pengaruhnya di Indonesia. Bagaikan mode & gaya hidup moderen, apa yang menjadi akibat dari krisis yang terjadi di Amerika sepetinya juga akan terjadi di negara kita ini. Tetapi kita tetap harus berfikir positif dalam kondisi ini dan semoga para pemimpin negara ini tidak larut asyik masyuk dengan kampanye politiknya.


Kita sebagai warga masyarakat biasa tidak boleh terpaku melihat akibat krisis ekonomi pelan-pelan melumat dengan lahap kehidupan dan career kita. Kita harus berani berfikir berbeda, berlawanan dengan arus utama pemikiran orang pada umumnya. Kita harus canangkan untuk bisa meraih peningkatan career sesuai dengan bidang yang kita geluti. Segera tentukan target Anda.


Anda tidak usah heran jika pemikiran ini Anda sampaikan kepada orang-orang disekitar pasti menganggap Anda gila. Dan mereka akan mengatakan bahwa Anda adalah orang pertama yang sakit jiwa akibat krisis ekonomi.



Tentu Anda akan bertanya apa yang harus dilakukan agar bisa meraih target peningkatan career telah dicanangkan. Ikuti langkah-langkah yang saya samapaikan di bawah ini:



  1. Tuliskanlah semua kesuksesan yang telah Anda raih selama ini, dari masa anak-anak sampai masa sekarang yang memang benar-benar merupaka hasil kerja keras Anda. Anda di sini harus jujur, jangan membohongi diri sendiri. Apakah sekarang ini Anda percaya bahwa Anda memiliki potensi dan kemampuan yang besar? jika jawabannya tidak, STOP sampai di sini saja jangan lanjutkan membaca tulisan ini. Namun jika jawabannya ya lanjutkan ke nomer 2 di bawah.


  2. Sekarang latihlah selalu untuk secara jujur melihat setiap moment yang terjadi dalam keidupan pribadi dan career/profesi Anda dari sisi yang positif dan yakinilah yang dengan sepenuh hati. Jika Anda masih belum sepenuhnya berfikir dari sisi positif dari setiap kejadian yang ada maka, Anda tidak akan bisa meraih target yang ditetapkan. Latih terus diri Anda sampai benar-benar mampu melihat sisi positif dan bisa meyakininya, karena bila Anda masih berfikir negatif biarpun sedikit, Anda pasti GAGAL . Namun jika Anda telah sepenuhnya berfikir positif yakinlah jalan sukses akan terbentang di depan.


  3. Ikuti petunjuk yang ada di pikiran Anda tentang bagaimana mencapai peningkatan career, lakukan dengan sepenuh jiwa. Di tahap ini competencies yang Anda miliki akan tampil optimal.

Apakah saya di sini sedang bercanda? Sama sekali tidak!!!


Karena siapa sih yang paling berkuasa atas diri kita selain kita sendiri? Tuhan telah menganugerahkan akal budi kepada manusia untuk mengontrol sendiri kita sendiri, kita diberi otonomi atas diri kita. Apakah kita masih akan minta bantuaNya dengan tanpa mengoptimalkan terlebih dulu pemberiaNya. Kita sebagai manusia diwajibkan berusaha setelah apa yang Tuhan anugerahkan semua alatnya tersedia.


Memang tidak akan banyak orang yang akan mampu meraih peningkatan career di masa krisis. Karena Tuhan memang sudah menakdirkan bahwa:


Angka satu adalah tunggal, juara sejati itu tidak ada yang kembar, lampu akan terlihat terang di dalam gelap, berlian sekecil apapun akan semkin terlihat terang kilaunya jika berada diantara lumpur, tidak ada juara tanpa ada usaha dan perjuangan, tidak ada juara jika tak ada pertandingan, tidak ada panglima perang jika tidak ada perang, tidak ada panglima perang jika dia kalah perang.


Siapakah Anda? The looser atau The winner.


Selamat berjuang sukses untuk career Anda.